Selama ini, aku tinggal di perkotaan, dan jarang ikut pemilihan umum karena memang tidak terdaftar. di daerah yang relatif lebih terpelajar itu, politik uang seoalh menjadi sekedar kasak-kusuk. Bagi masyarakat2 yang relatif lebih terpelajar, boleh saja mereka menerima uang dari calon siapa saja, tapi soal pilihan adalah urusan hati, bukan soal siapa yang memberi sedikit atau banyak. bagaimana dengan masyarakat pedesaan?
aku pulang kampung sehari menjelang pencoblosan. di kampung situasinya benar-benar ramai, dalam arti semuanya. kampanye, saling dukung, bagi-bagi duit. Siapa yang bagi-bagi duit? hampir semua calon.
setelah prosesi bagi-bagi duit salah satu calon, bermunculan berbagai protes. banyak yang merasa sebagai simpatisan calon tersebut, tapi tidak kebagian duit.
"Aku tidak ada yang ngasih duit, ya tidak akan nyoblos," katanya. padahal orang ini merupakan ibu dari salah satu aktifis calon lainnya. jelas saja pembagi uang tidak menganggapnya orang yang pantas diberi uang karena merupakan pendukung saingannya.
ada lagi, yang marah karena tidak diberi, padahal ayahnya merupakan koordinator pemenangan calon lain untuk desa tersebut.
sebenarnya banyak cerita dan hal baru yang aku peroleh saat pertama kali menginjakkan kaki di kampung halaman tercintanya ini. mungkin lain kali aku akan berbagi cerita seputar pilkada kabupaten pekalongan yang baru lalu.
Tuesday, May 3, 2011
Catatan Pilkada Pekalongan: Detik-detik Menjelang Pencoblosan
Lainnya dari catatan bambang wibowo, pilkada pekalongan
Ditulis Oleh : Kaisar Woll Hari: 2:26 AM Kategori: pilkada pekalongan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment